Sudah jadi kebiasaan bagi beberapa warga Jakarta untuk menggunakan angkutan umum TJ setiap pagi. Bagus! Mengurangi kemacetan, mengurangi polusi,mencari stress sendiri.
Oke, jadi seseorang bangun pagi-pagi buta saat bulan masih nangkring di atas, ketika langit mulai menerang, dia sudah sampai di loket dan beli tiket, kemudian masuk dan antre. Biasanya di Halte Kalideres sini, kalau sudah jam setengah 6 lewat, sudah mulai ramai. Dan biasanya kalau sudah jam 6, sudah mulai antrean panjang. Dan bila sudah jam setengah 7, jangan harap bisa tenang mengantre. Maka dari itu tidak mengherankan bila dalam antrean panjang itu, akan didapati berapa kepala yang resah melongok-longok berharap melihat atap bus yang berwarna merah atau abu-abu.
Kalau lagi sinting, bisa-bisa jalur bus TJ malah dilewati oleh supir bus jabotabek. Yang menyebalkan, beberapa bus umum itu biasanya beratap abu-abu dan merah, dan besarnya nyaris sama dengan bus TJ. Dan kepala-tubuh pengantre lainnya akan membuat seseorang tidak mampu membedakan dengan jelas apakah itu bus TJ atau bus umum. Setidaknya bus umum itu membukakan pintu gerbang kaca halte sehingga angin segar masuk menghibur para pengantre yang sudah menahan gemas. Yang udah wangi, dengan cepat jadi bau lagi. Yang udah seger krn bangun tidur, dengan cepat jadi kesel lagi karena cemas busnya ga dateng-dateng. Yang hari itu ujian pagi, bisa nangis-nangis dalam hati dan ga tau harus menyalahkan siapa. Kalau sudah begini, diprovokasi anarkis dengan sentilan aja udah bisa nih kayaknya. Bisa-bisa stasiun televisi akan menyiarkan berita pesta bareque di halte transjakarta pagi itu.
Akhirnya begitu bus yang dinanti-nanti itu datang, tak pelak lagi para calon penumpang yang sudah dendam kesumat itu langsung menyerbu bus TJ tersebut. Biasanya ditandai dengan suara protes dari kaum hawa; “aduh! jangan dorong-dorong dong!”
Para petugas dan barrier TJ pun sudah tidak berdaya untuk menahan amukan pragmatik massa calon penumpang itu.
Singkat cerita akhirnya si pengantre memetik buah dari kesabarannya, yakni mendapatkan kursi Transjakarta yang nyaman-nyaman AC. Yah, seenggaknya kita yang duduk ga cape diuji kekuatan fisiknya oleh bus TJ yang remnya kadang-kadang bikin orang kecempet, serasa berada di dalam mixer. Terutama bila bus dalam keadaan penuh sesak seperti kaleng sardin. Kadang kasihan juga ngeliat ada orang yang berdiri sambil tidur. Hebatnya, doi ga jatuh bergulingan sekalipun mulutnya udah ngebuka dan pake ngorok pula. Salut, salut.
Tapi jangan dikira yang kebagian tempat duduk bebas dari marabahaya. Awalnya saya heran dengan orang-orang yang tidur dengan posisi kepala dicondongkan ke depan. Otot lehernya pasti kuat sekali. Saya sendiri selalu tidur dengan kepala bersandar pada punggung kursi. Jadi kepala saya mendongak, otot saya relaks dan tidur saya bisa lebih pulas. Begitu bangun, sudah sampai tujuan. Kendalanya di sini; karena bagian kepala saya yang belakang itu tertahan pada puncak kursi plastik yang tidak empuk, … dan ingat tadi, rem bus TJ kalau lagi penuh sesak, akibatnya tidur saya pun tidak nyenyak dan bagian belakang kepala saya seringkali terantuk dengan keras pada sudut punggung kursi yang—sekali lagi—tidak empuk. Akibatnya sekarang saya rasakan bagian belakang kepala saya terasa sakit seperti memar.
Demikianlah duka-duka naik TJ, dari sekian banyak duka yang saya rasakan.